Sunday, March 31, 2019

Istilah anak jaman now dikategorikan bullying sequel


Welcome back millennials…..!
seperti yang sudah khadijah janjikan bahwa akan ada  sefaktor yang kemarin segaja di keep dulu karna satu dan lain hal tentunya. Jangan Tanya keapa ? of course it didn’t caused by floods and terrible weather in my area lohh ya Dan today banget nih netijen yang di rahmati Tuhan akan tau apa saja sih dua faktor tersebut.
Baiklah Khadijah cukupkan saja basa basinya karna kuterlampau yakin bahwa kalian sudah menunggu-nunggu 1 hal yang tidak kita sadari setelah penggunaan istilah jaman now check this out


1.                   Menimbulkan emosi


Dengan membiasakan hal yang tidak biasa ini (mungkin sebagian kecil orang saja yang terbiasa, tapisisanya tidak) nah bagi mereka bisa muda mudi atau orang dewasa yang berasal dari daerah yang mendengar desas desusnya tentang bahasanya saja sudah jijik apalagi ketika mendengar langsung katakanlah solo dan yogya bukan tidak mungkin akan memberi feedback dengan tidak sewajarnya bahkan dengan membabi buta terhadap orang yang berucap kotor tersebut tanpa bertanya terlebih dahulu kepada siapa atau object yang diajak bicara. seperti halnya

a. di dalam kelas dan millenials niatnya hanya berbicara kepada teman yang sudah akrabnya kebangettan tetapi tetapi di kelas Tidak hanya di huni oleh kalin and the gangz kan. Takutnya salah satu pendengarnya punya masalah dalam menahan amarah maka kalianlah yang akan di sakiti atau di bikin kapoklah istilahnya.

b. dan jika kalian Tanya apa hubungannya dengan kesehatan mental? Nah sebenarnya yang dapat menimbulkan kerusakan mental adalah mereka-mereka yang tidak expressif dan lebih memilih menahan amarahnya daripada melabrak seperti contoh A.

cukuplah sudah pembahasan diatas tetapi jika Berbicara remaja jaman sekarang yang kemampuan memainkan technology dan mengutak atik medsos yang sudah tidak di ragukan lagi lah thumbs up deh buat  kalian, maka jangan heran jika tidak hanya style yang harus up to date tetapi bahasanya dan istilah juga harus kekinian gitu loh . sampai-sampai millenials dibutakan dengan makna yang sesungguhnya dari bahasa keren tersebut atau sebagian dari kalian perpikir “yauda lah yang penting gua happening getoh persetan dengan emak bapak, nenek eyang dan ema dari buyut gua yang nganggep ini gasopan ” ada yang gitu gak ya kira-kira?

In my point of me itu tergantung kalian hanya kalian tapi setelah 3 faktor yang sudah diuraikan sepanjang tikar  hehe itu pliz banget pertimbangkan lagi. Meskipun I do bealive bahwa penggunaannya cenderung tidak bertahan lama karna mungkin tertutup dengan bahasa-bahasa yang lebih baru dan happening tentunya. Tetapi alangkah lebih baik jika kalian memilah milih mana yang pantas dan mana yang kurang pantas.

Friday, March 22, 2019

Istilah anak jaman now bisa merusak kesehatan mental?

Istilah anak jaman now dikategorikan bulliying dan bisa merusak kesehatan mental?


Holla millennial ………….!

pasti kalian sudah tak asing lagi kan dengan istilah-istilah ; kuy, gemay, unch etc. bukan itu saja, banyak istilah lain yang sounds a little bit kasar tapi kita kerap kali mengucapkannya malah menganggapnya lelucon. Yups for instance “dasar g*bl*k, janc*k, dasar bucin “ bahkan status seperti “ jomblo ” dijadikan sebagai olok-olokan yang membuat mereka tak henti-hentinya tergelak. Tapi dibalik itu semua, did you know bahwa kata-kata yang kalian anggap angin lalu itu bisa merusak kesehatan mental seseorang loh.
“luka fisik banyak obatnya tapi jika batin yang sakit kita mau bagaimana?” correct if I’m wrong! okay mungkin sekarang kalian bertanya-tanya . apa hubungannya istilah dengan mental? Atau bagian mananya yang menjadi penyebab rusaknya mental? Baiklah check it out


Berikut ini adalah tiga hal yang tidak kita sadari setelah menggunakan istilah anak
jaman now
1. Kebiasaan 
Eits Jangan di demo dulu guys, maksud mimin begini Mungkin membiasakan mengolok-olok seperti ini tidak apa-apa bagi sebagian orang tapi jika tidak sengaja diucapkan kepada orang lain (I mean orang yang bukan dari golongannya) tidak menutup kemungkinan mereka akan kehilangan rasa percaya diri dan takut dalam menyampaikan aspirasinya atau hanya sekedar memberikan saran. Ex dalam certain conversation kalian kelepasan mengatakan hal itu maka orang yang kalian ajak  bicara akan terbayang-bayang perkataan itu kemudian merasa tidak peraya diri dan takut jika semua orang akan sama respondnya Nah takut dan tidak percaya inilah yang sulit di bangun kembali dan jika berlarut- maka pesimislah yang datang dan tentu saja akan mengarah ke depresi. Millinials mungkin saja menggangap dirinya bisa banget mengontrol ucapan nakal itu.  Tapi,  tupai yang keahliannya lompat saja bisa jatuh apalagi kalian teman-teman yg budiman.

2. Memicu stress
Stress tentunya bisa datang dari berbagai aspek dan olok-olokan anak millennialpun bisa memicunya. Yah di point ke dua ini mimin akan menitik beratkan pada olok-olokan ”jomblo” kalian bisa saja mengucapkan kata ini dengan sangat gampang  tapi who knows isi dari masing-masing hati orang yang akan sakit karena keseringan diucapkan hal demikian. tidak berhenti di situ saja, orang itu bisa jadi akan terburu-buru untuk memilih dan berhubungan dengan siapa saja hanya karena untuk memenuhi keinginan para pengolok-olokan atau bahkan menganggap semua olok-olok yang kalian anggap trash ini menjadi tuntutan sosial yang harus di penuhi hanya agar mendapat pengakuan sosial tanpa memikirkan kesiapan dirinya sendirinya. Jika diri sendiri tidak siap, maka akan berdampak pada hal-hal lainnya . entah masih tidak bisa memposisikan dirinya dengan status barunya atau yang lainnya.


Nah dari dua pembahasan diatas millenials yakin untuk tetap meneruskan kebiasaan itu? Atau masih menunggu dua point yang akan di post berikutnya? 

Oh ya karena sepenuhnya ini hanyalah hasil dari otak kecil khatijah ini jadi kritik dan saran akan sangat membantu